Selamat Datang Di Laboratorium Akuntansi dan Keuangan IKOPIN

............................................................................

Selamat Datang Di Laboratorium Akuntansi dan Keuangan IKOPIN

............................................................................

Selamat Datang Di Laboratorium Akuntansi dan Keuangan IKOPIN

............................................................................

Selamat Datang Di Laboratorium Akuntansi dan Keuangan IKOPIN

............................................................................

Selamat Datang Di Laboratorium Akuntansi dan Keuangan IKOPIN

............................................................................

Selasa, 14 Juli 2026

BALANCE FACT: JENIS TRANSPORTASI AKUNTANSI

 


JENIS TRANSAKSI AKUNTANSI 

Dunia akuntansi adalah bahasa bisnis yang merekam setiap denyut nadi aktivitas ekonomi sebuah entitas. Transaksi akuntansi bukan sekadar pertukaran uang, melainkan peristiwa ekonomi yang memengaruhi posisi keuangan perusahaan dan harus dicatat secara sistematis. Secara garis besar, transaksi dapat diklasifikasikan berdasarkan berbagai sudut pandang, mulai dari keterlibatan pihak luar, jenis aktivitasnya, hingga dampaknya terhadap persamaan akuntansi dasar. Memahami jenis-jenis transaksi ini sangat krusial karena setiap kategori memerlukan perlakuan jurnal yang berbeda untuk menghasilkan laporan keuangan yang akurat seperti Neraca, Laporan Laba Rugi, dan Laporan Arus Kas.

1. Klasifikasi Berdasarkan Hubungan Institusional: Internal dan Eksternal

Pembagian yang paling mendasar dalam akuntansi adalah membedakan antara transaksi yang melibatkan pihak ketiga dan transaksi yang terjadi sepenuhnya di dalam lingkup internal perusahaan.

Transaksi Eksternal:Ini adalah jenis transaksi yang paling umum kita temui. Transaksi eksternal melibatkan pertukaran nilai antara perusahaan dengan individu atau organisasi di luar entitas tersebut. Contoh klasiknya meliputi pembelian bahan baku dari pemasok, penjualan barang dagangan kepada pelanggan, pembayaran sewa gedung kepada pemilik properti, atau pengambilan pinjaman dari bank. Transaksi ini biasanya didukung oleh bukti fisik yang kuat seperti faktur, kuitansi, atau nota debet/kredit. Dalam pencatatannya, transaksi eksternal langsung berdampak pada perubahan aset, kewajiban, atau ekuitas yang melibatkan aliran kas atau timbulnya piutang dan utang.

Transaksi Internal: Berbeda dengan eksternal, transaksi internal tidak melibatkan pihak luar tetapi tetap memiliki nilai ekonomi yang harus diakui. Transaksi ini lebih bersifat administratif atau penyesuaian nilai aset di dalam buku besar. Contoh yang paling menonjol adalah penyusutan (depresiasi) aset tetap. Ketika sebuah mesin digunakan, nilainya berkurang seiring waktu; meskipun tidak ada uang yang keluar saat itu juga, akuntansi harus mencatat beban penyusutan tersebut sebagai transaksi internal. Contoh lainnya termasuk penggunaan perlengkapan kantor yang semula dibeli sebagai aset lalu diakui sebagai beban, atau transfer biaya antar departemen dalam perusahaan manufaktur.

2. Klasifikasi Berdasarkan Arus Kas: Tunai dan Kredit dan Non-Kas

Dalam operasional harian, cara pembayaran menentukan bagaimana transaksi tersebut dikelola dalam siklus akuntansi, terutama dalam kaitannya dengan manajemen likuiditas.

Transaksi Tunai (Cash Transactions): Ini adalah transaksi di mana pertukaran nilai dan pembayaran terjadi secara simultan atau dalam waktu yang sangat berdekatan. Saat perusahaan membeli alat tulis dan langsung membayarnya dengan uang tunai atau transfer bank, kas perusahaan berkurang seketika. Transaksi tunai dianggap paling sederhana karena tidak meninggalkan kewajiban atau tagihan di masa depan.

Transaksi Kredit (Credit Transactions):Dalam dunia bisnis modern, transaksi kredit adalah tulang punggung perdagangan. Transaksi ini terjadi ketika barang atau jasa diserahkan hari ini, namun pembayarannya disepakati pada tanggal tertentu di masa depan (misalnya termin 30 hari). Hal ini memicu munculnya akun Piutang Usaha (bagi penjual) atau Utang Usaha (bagi pembeli). Pencatatan transaksi kredit sangat penting untuk memantau arus kas masuk dan keluar yang tertunda agar perusahaan tetap memiliki modal kerja yang cukup.

Transaksi Non-Kas (Non-Cash Transactions): Transaksi ini tidak melibatkan aliran kas sama sekali, baik sekarang maupun di masa depan. Contohnya adalah penghapusan piutang yang tidak tertagih atau pertukaran aset lama dengan aset baru (tukar tambah) di mana nilai buku aset lama dijadikan pengurang harga aset baru tanpa ada perpindahan uang tunai yang signifikan.

3. Klasifikasi Berdasarkan Aktivitas Bisnis

Berdasarkan PSAK (Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan), transaksi juga dapat dikelompokkan menurut fungsinya dalam aktivitas bisnis, yang nantinya akan tercermin dengan jelas dalam Laporan Arus Kas.

Transaksi Operasional: Merupakan transaksi rutin yang berkaitan langsung dengan aktivitas utama perusahaan untuk menghasilkan pendapatan. Bagi perusahaan dagang, ini termasuk pembelian persediaan, penjualan barang, pembayaran gaji karyawan, biaya listrik, dan iklan. Transaksi operasional adalah indikator utama apakah bisnis inti perusahaan sehat atau tidak.

Transaksi Investasi: Transaksi ini berkaitan dengan perolehan dan pelepasan aset jangka panjang serta investasi lain yang tidak termasuk dalam setara kas. Membeli tanah untuk pabrik baru, menjual mesin lama yang sudah tidak efisien, atau membeli saham perusahaan lain sebagai investasi jangka panjang adalah bagian dari kategori ini. Transaksi investasi menunjukkan bagaimana perusahaan mengalokasikan sumber dayanya untuk pertumbuhan masa depan.

Transaksi Pendanaan (Financing): Ini adalah transaksi yang mengakibatkan perubahan dalam ukuran dan komposisi modal ekuitas dan pinjaman perusahaan. Contohnya adalah penerbitan saham baru untuk mendapatkan modal, pengambilan pinjaman jangka panjang dari bank (obligasi), atau pembayaran dividen kepada pemegang saham. Transaksi ini mencerminkan bagaimana perusahaan membiayai operasional dan investasinya.

4. Transaksi Berdasarkan Dampak pada Persamaan Akuntansi

Setiap transaksi dalam akuntansi harus menjaga keseimbangan persamaan dasar:

Aset = Kewajiban + Ekuitas


Berdasarkan dampaknya, transaksi dapat dibagi menjadi:

1. Transaksi yang Memengaruhi Aset Saja: Misalnya, pembelian peralatan secara tunai. Di sini, satu jenis aset (Kas) berkurang, sementara aset lainnya (Peralatan) bertambah. Total aset tetap sama, namun komposisinya berubah.

2. Transaksi yang Memengaruhi Aset dan Kewajiban: Contohnya adalah pembelian persediaan secara kredit. Aset (Persediaan) bertambah, dan di sisi lain, Kewajiban (Utang Usaha) juga bertambah dengan jumlah yang sama.

3. Transaksi yang Memengaruhi Aset dan Ekuitas: Saat pemilik menyetorkan modal pribadi ke dalam perusahaan, Aset (Kas) bertambah dan Ekuitas (Modal Pemilik) juga bertambah. Sebaliknya, pembayaran beban gaji akan mengurangi Kas (Aset) dan mengurangi Laba Ditahan (Ekuitas).

4. Transaksi yang Memengaruhi Kewajiban dan Ekuitas: Meskipun lebih jarang, ini terjadi misalnya saat konversi utang menjadi saham. Kewajiban perusahaan berkurang, tetapi Ekuitas bertambah karena pemberi utang kini menjadi pemegang saham.

 5. Transaksi Penyesuaian (Adjustment Transactions)

Terakhir, ada jenis transaksi yang dilakukan di akhir periode akuntansi. Transaksi penyesuaian ini bertujuan untuk memastikan bahwa pendapatan dan beban diakui pada periode yang tepat sesuai dengan asas accrual basis.

Accrued Revenues: Pendapatan yang sudah dihasilkan tetapi belum dicatat karena belum ditagih.

Accrued Expenses: Beban yang sudah terjadi tetapi belum dibayar (misalnya bunga bank atau gaji yang jatuh tempo di akhir bulan).

Deferred Revenues (Unearned Revenue): Uang yang sudah diterima dari pelanggan namun jasanya belum diberikan.

Prepaid Expenses: Biaya yang dibayar di muka, seperti asuransi atau sewa, yang manfaatnya akan dirasakan di masa depan.


 Kesimpulan

Memahami seluruh jenis transaksi ini secara rinci adalah fondasi bagi siapa saja yang ingin menguasai akuntansi. Tanpa identifikasi transaksi yang tepat, klasifikasi akun akan salah, penjurnalannya akan keliru, dan pada akhirnya, laporan keuangan yang dihasilkan akan menyesatkan para pengambil keputusan. Setiap transaksi, sekecil apa pun, merupakan bagian dari gambaran besar kesehatan finansial sebuah organisasi.


Referensi:

Standar Akuntansi Keuangan (SAK) - Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). (Pilar utama dalam pengakuan dan pengukuran berbagai jenis transaksi di konteks Indonesia)

Weygandt, J. J., Kieso, D. E., & Kimmel, P. D. (2019). Financial Accounting with International Financial Reporting Standards (IFRS). Wiley. (Menjelaskan secara mendalam mengenai pengakuan transaksi eksternal dan internal sesuai standar global).

Share:

Jumat, 10 Juli 2026

BANK SOAL UAP GANJIL 2026

Hallo Balance People👋
gimana nih kabarnya? 🤗🤗🤗
semoga tetap sehat selalu dan bahagia yaa

Ada kabar baik nih, bagi balance people yang ingin belajar kembali soal-soal UAP Ganjil 2026,


balance people bisa download disini

Share:

Jumat, 03 Juli 2026

NILAI AKHIR PRAKTIKUM SEMESTER GENAP 2026

 Hallo balance people👋


Gimana nih kabarnya? semoga baik-baik aja yaaa...


Balance people pasti udah gasabar kan pengen tau nilai akhir yang balance people dapet di lab, yukk langsung aja cek nilai semester genap kalian dan semoga hasilnya memuaskan yaa😉


Nilai Akhir Pengantar Akuntansi 2

Nilai Akhir Akuntansi Biaya 1

Nilai Akhir Akuntansi Biaya 1 (Ngulang)

Nilai Akhir Akuntansi Biaya 2

Nilai Akhir Akuntansi Koperasi

Nilai Akhir Akuntansi Koperasi (Ngulang)

Nilai Akhir Akuntansi Keuangan 1

Nilai Akhir Akuntansi Keuangan 2

Nilai Akhir Komputerisasi Akuntansi


Besar atau kecil nilai yang balance people dapat itu merupakan hasil dan usaha balance people sendiri yaa, jangan lupa apresiasikan usaha yang telah balance people berikan. Semoga balance people dapat terus mempertahankan dan meningkatkan nilai praktikumnya yaaa💫


Semangattttttt terus balance people dan selamat menjalani ujian akhir semesternya ya👋😊

Share:

Minggu, 14 Juni 2026

BALANCE FACT: PERSEDIAAN BARANG DAGANG

 

PERSEDIAAN BARANG DAGANG


1. Pengertian Persediaan

Menurut PSAK 202, Persediaan adalah aset yang dimiliki untuk dijual dalam kegiatan usaha normal, dalam proses produksi untuk penjualan, atau dalam bentuk bahan dan perlengkapan yang akan digunakan dalam proses produksi atau pemberian jasa. Dalam perusahaan dagang, persediaan umumnya berupa barang yang dibeli untuk dijual kembali tanpa melalui proses produksi. Dengan demikian, persediaan memiliki peran penting sebagai sumber utama pendapatan perusahaan karena akan menghasilkan arus masuk kas melalui penjualan.


2. Ruang Lingkup Persediaan

PSAK 202 mengatur perlakuan akuntansi persediaan secara menyeluruh, mulai dari pengakuan, pengukuran, hingga pengungkapan dalam laporan keuangan. Standar ini mencakup penentuan biaya perolehan, metode penilaian persediaan, pengakuan persediaan sebagai beban (Harga Pokok Penjualan), serta perlakuan terhadap penurunan nilai persediaan. Namun, tidak semua jenis persediaan diatur dalam PSAK ini, karena beberapa aset seperti aset biologis atau instrumen keuangan diatur dalam standar lain.


3. Pengakuan Persediaan

Persediaan diakui sebagai aset jika:

 Entitas memiliki kendali atas barang

 Mengandung manfaat ekonomi di masa depan

 Dapat diukur secara andal

Dalam praktiknya, pengakuan ini juga dipengaruhi oleh syarat penyerahan barang, seperti FOB shipping point atau FOB destination, yang menentukan kapan hak kepemilikan berpindah dari penjual ke pembeli.


4. Pengukuran Persediaan

 PSAK 202 menetapkan bahwa persediaan harus diukur sebesar biaya perolehan atau nilai realisasi neto (Net Realizable Value/NRV), mana yang lebih rendah. Biaya perolehan mencakup seluruh biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh persediaan hingga berada dalam kondisi dan lokasi siap dijual, seperti harga beli, bea impor, pajak yang tidak dapat dikreditkan, serta biaya angkut dan penanganan, setelah dikurangi diskon atau potongan pembelian.

 Sementara itu, nilai realisasi neto merupakan estimasi harga jual dalam kegiatan usaha normal dikurangi biaya penyelesaian dan biaya penjualan. Prinsip ini bertujuan untuk mencegah penyajian nilai persediaan yang terlalu tinggi dalam laporan keuangan.


5. Pengakuan sebagai Beban (HPP)

 PSAK 202 menyatakan bahwa ketika persediaan dijual, maka nilai tercatat persediaan tersebut harus diakui sebagai beban dalam bentuk Harga Pokok Penjualan (HPP). Hal ini menunjukkan bahwa persediaan memiliki hubungan langsung dengan laba rugi perusahaan, karena semakin besar HPP maka laba yang dihasilkan akan semakin kecil, dan sebaliknya.


6. Pengungkapan dalam Laporan Keuangan

Menurut PSAK 202 dari Ikatan Akuntan Indonesia, entitas wajib mengungkapkan:

 Kebijakan akuntansi yang digunakan untuk persediaan

 Metode penilaian persediaan (FIFO atau rata-rata)

 Jumlah tercatat persediaan

 Jumlah penurunan nilai (write-down)

 Jumlah pembalikan penurunan nilai (reversal)

 Kondisi atau peristiwa yang menyebabkan penurunan nilai

 Persediaan yang dijadikan jaminan (jika ada)


7. Metode Penentuan Biaya Persediaan

Metode yang diperbolehkan dalam PSAK 202:

 FIFO (First In First Out) → barang yang pertama dibeli dianggap dijual terlebih dahulu

 Rata-rata tertimbang (Weighted Average) → biaya dihitung dari rata-rata seluruh unit

Metode yang tidak diperbolehkan dalam PSAK 202:

LIFO (Last In First Out) → Menganggap barang terakhir dibeli dijual terlebih dahulu

 Alasan:

o Tidak mencerminkan aliran fisik barang

o Dapat membuat laporan keuangan kurang relevan dan tidak representative


8. Metode Pencatatan Persediaan

Terdapat 2 metode pencatatan:

1) Sistem Perpetual

 Persediaan dicatat setiap transaksi

 Nilai persediaan selalu update

 HPP bisa langsung diketahui

 Cocok untuk perusahaan besar / sistem modern

2) Sistem Periodik

 Persediaan tidak dicatat setiap transaksi

 Dihitung di akhir periode (stock opname)

 HPP dihitung di akhir periode

 Lebih sederhana, cocok usaha kecil


Sumber :

PSAK 202: Persediaan – Ikatan Akuntan Indonesia (IAI)

Share:

Kamis, 14 Mei 2026

BALANCE FACT : LAPORAN ARUS KAS

 


LAPORAN ARUS KAS

1. Ruang Lingkup Standar

PSAK 207 menggantikan PSAK 2 (Laporan Arus Kas). Peralihan ini mengikuti PSAK baru yang merujuk IAS 7 Statement of Cash Flows dengan nomor standar diperbarui untuk PSAK setelah harmonisasi dengan IFRS.

PSAK 207 (Laporan Arus Kas) mengatur:

 Tujuan pelaporan arus kas

 Definisi kas dan setara kas

 Aktivitas arus kas

 Penyajian aktivitas kas

 Pengungkapan arus kas dari aktivitas investasi dan pendanaan

 Pengungkapan arus kas ketidak-likuidan tertentu dan liabilitas pendanaan yang timbul

2. Definisi Kas, Setara Kas, dan Laporan Arus Kas

 Kas merupakan uang tunai dan saldo giro yang tersedia (dapat digunakan kapan saja dan tidak perlu dikonversi terlebih dahulu) dapat berupa cash on hand atau cash in bank.

 Setara kas merupakan investasi yang sangat likuid yang mudah dicairkan menjadi kas dengan risiko perubahan nilai yang tidak signifikan dan jatuh tempo tidak lebih dari 3 bulan sejak tanggal perolehan.

 Laporan arus kas merupakan merupakan laporan yang menyajikan informasi mengenai arus masuk dan arus keluar kas dan setara kas selama suatu periode, yang diklasifikasikan berdasarkan aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan.

Secara sederhana, laporan arus kas menjelaskan dari mana kas diperoleh dan untuk apa kas digunakan dalam satu periode akuntansi.

3. Tujuan Laporan Arus Kas

 Menurut PSAK 207, informasi tentang arus kas suatu Perusahaan berguna bagi para pemakai laporan keuangan sebagai dasar untuk menilai kemampuan Perusahaan dalam menghasilkan kas dan setara kas, serta menilai kebutuhan perusahaan dalam menggunaan arus kas tersebut. Dalam proses pengambilan Keputusan ekonomi, para pemakai perlu melakukan evaluasi terhadap kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas dan setara kas serta kepastian perolehannya. Selain itu, tujuan laporan arus kas juga adalah sebagai berikut:

 Menilai kemampuan perusahaan menghasilkan kas dan setara kas

 Menilai kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendek

 Menilai kebutuhan perusahaan terhadap penggunaan kas

 Membantu pengguna laporan keuangan dalam menilai likuiditas dan solvabilitas

 Menjadi dasar evaluasi kinerja keuangan Perusahaan

4. Klasifikasi Arus Kas

 PSAK 207 menetapkan tiga kelompok utama arus kas berdasarkan aktivitas yaitu:

 Arus Kas dari Aktivitas Operasi:

Arus kas yang berasal dari aktivitas utama entitas menghasilkan pendapatan.

 Arus Kas dari Aktivitas Investasi:

Arus kas yang berkaitan dengan perolehan dan pelepasan aset jangka panjang dan investasi lain selain kas & setara kas.

 Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan

Arus kas yang berasal dari perubahan ukuran dan komposisi modal penyandang dana dan pinjaman perusahaan.

5. Penyajian Arus Kas

 Metode Langsung (Direct Method)

 Menurut PSAK 207, arus kas dari aktivitas operasi dapat disajikan dengan metode langsung, yaitu mencatat arus kas masuk dan keluar secara bruto dari aktivitas operasi yang utama (misalnya kas diterima dari pelanggan, kas dibayarkan ke pemasok dan karyawan).

 Metode Tidak Langsung (Indirect Method)

 PSAK 207 juga memperbolehkan metode tidak langsung untuk arus kas dari aktivitas operasi. Metode ini memulai dari laba atau rugi akuntansi, lalu disesuaikan untuk transaksi nonkas seperti penyusutan, akrual, dan transaksi yang terkait dengan investasi atau pendanaan.

Sumber :

PSAK No 207: Laporan Arus Kas – Ikatan Akuntan Indonesia (IAI)

Share:

Sabtu, 25 April 2026

BANK SOAL UTP GENAP 2026

Hallo Balance People👋
gimana nih kabarnya? 🤗🤗🤗
semoga tetap sehat selalu dan bahagia yaa

Ada kabar baik nih, bagi balance people yang ingin belajar kembali soal-soal UAP Ganjil 2026,


balance people bisa download Disini

Share:

Selasa, 14 April 2026

BALANCE FACT: PENCATATAN DAN PERHITUNGAN PIUTANG

 


PENCATATAN DAN PERHITUNGAN PIUTANG

Pengertian Piutang Usaha

 Piutang adalah suatu hak pembayaran yang dimiliki suatu entitas terhadap suatu pihak/entitas karena telah mendapatkan manfaat atas suatu produk atau jasa tetapi belum diselesaikan pembayarannya. Piutang merupakan jenis aktiva lancar karena memiliki jatuh tempo yang pendek (kurang dari satu periode pelaporan), dapat memiliki bunga dan memiliki konsekuensi atas dasar denda apabila telat dalam pembayarannya.

Klasifikasi Piutang

 Dalam sebuah entitas, piutang diklasifikasikan menjadi dua kelompok, yaitu :

1. Piutang Usaha

Piutang yang timbul dari penjualan barang atau jasa yang dihasilkan oleh entitas. Dalam kegiatan normal entitas, piutang usaha biasanya akan dilunasi dalam tempo kurang dari satu tahun sehingga piutang dikelompokkan ke dalam aset lancar.

2. Piutang Non-Usaha

Piutang yang timbul bukan sebagai bagian akibat dari penjualan barang atau jasa yang dihasilkan entitas, misalnya DP pembelian barang, klaim atas kerusakam atau kehilangan, klaim restitusi pajak, pengakuan dividen dan lain-lain.

Pencatatan, Pengukuran dan Penyajian Piutang

 Piutang dicatat dan diakui sebesar nilai bruto (nilai jatuh tempo) dikurangi dengan taksiran jumlah yang tidak akan diterima. Piutang dicatat sebesar jumlah yang diestimasi akan dapat ditagih. Karena itu dalam proses pengelolaan piutang, perusahaan harus membuat cadangan piutang tak tertagih yang merupakan taksiran jumlah piutang yang diestimasi tidak dapat ditagoh dalam periode tersebut.

Dasar Pencadangan Piutang Tak Tertagih

 Dalam menghitung estimasi piutang tak tertagoh terdapat dua dasar yang dapat dijadikan acuan, yaitu :

1. Presentasi dari total penjualan

Cadangan Kerugian Piutang tak tertagoh didasarkan pada presentase tertentu dari saldo akun penjualan pada saat cadangan kerugian tersebut ditetapkan atau pada taksiran jumlah penjualan kredit pada periode berjalan.

2. Saldo Piutang

a. Presentase Saldo Piutang, cadangan kerugian ditentukan berdasarkan saldo akun piutang pada periode perhitungan.

b. Analisis Umur Piutang, Cadangan kerugian piutang didasarkan pada besaran risiko atau kemungkinan tidak tertagih di periode berjalan.

Penghapusan Piutang

 Cadangan kerugian piutang ditetapkan pada awal periode akuntansi dan merupakan estimasi besarnya piutang tak tertagih pada suatu periode akuntansi, namun pada saat berjalannya waktu, seringkali terdapat sejumlah piutang yang tidak benar-benar tidak dapat ditagih sehingga harus dihapuskan karena berbagai alasan. Penghapusan ini akan mempengaruhi posisi dalam laporan laba rugi dan laporan posisi keuangan. Dalam menghapus piutang tak tertagih, ada dua metode yang dapat digunakan yaitu :

1. Metode Cadangan Kerugian

Metode penghapusan piutang yang dilakukan dengan cara setiap hari periode ditentukkan taksiran jumlah kerugian piutang. Taksiran piutang tak tertagih dan taksiran kerugian piutang tak tertagih ini dicatat ke rekening kerugian piutang sisi debet dan cadangan kerugian piutang di sisi kredit.

2. Metode Penghapusan Langsung (Direct Write Off)

Metode penghapusan piutang dengan cara langsung menghapusan piutang yang benar-benar tidak dapat ditagih tanpa pencadangan terlebih dahulu.

Pengendalian Internal Piutang

 Perusahan dalam menjalankan aktivitasnya untuk mencapai tujuan harus melakukan pengendalian. Pengendalian yang ditetapkan harus memberi manfaat, dalam hal ini mampu meningkatkan efektivitas serta efisensi operasi. Pengendalian juga bertujuan agar segala sesuatunya berjalan sesuai dengan perencanaan. Pengendalian dimaksud adalah pengendalian intern terhadap piutang (Basuki, 2022). Giri (2017) menyatakan pengertian piutang sebagai suatu tuntutan perusahaan kepada pelanggan maupun pihak lain untuk mendapatkan barang, jasa dan uang di masa depan yang disebabkan oleh penyerahan barang atau jasa pada masa sekarang.

Amelia Rizky Alamanda, S. M. (2022). Bandung: CV. Media Sains Indonesia.

Share:

INFO LAIN

Blog's

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

Blogger templates