Sabtu, 05 September 2026
BALANCE FACT: BUKU BESAR PEMBANTU (SUBSIDIARY LEDGER)
Jumat, 14 Agustus 2026
BALANCE FACT: AKUNTANSI NILAI WAJAR & PENGARUHNYA TERHADAP LAPORAN KEUANGAN
Selasa, 14 Juli 2026
BALANCE FACT: JENIS TRANSPORTASI AKUNTANSI
JENIS TRANSAKSI AKUNTANSI
Dunia akuntansi adalah bahasa bisnis yang merekam setiap denyut nadi aktivitas ekonomi sebuah entitas. Transaksi akuntansi bukan sekadar pertukaran uang, melainkan peristiwa ekonomi yang memengaruhi posisi keuangan perusahaan dan harus dicatat secara sistematis. Secara garis besar, transaksi dapat diklasifikasikan berdasarkan berbagai sudut pandang, mulai dari keterlibatan pihak luar, jenis aktivitasnya, hingga dampaknya terhadap persamaan akuntansi dasar. Memahami jenis-jenis transaksi ini sangat krusial karena setiap kategori memerlukan perlakuan jurnal yang berbeda untuk menghasilkan laporan keuangan yang akurat seperti Neraca, Laporan Laba Rugi, dan Laporan Arus Kas.
1. Klasifikasi Berdasarkan Hubungan Institusional: Internal dan Eksternal
Pembagian yang paling mendasar dalam akuntansi adalah membedakan antara transaksi yang melibatkan pihak ketiga dan transaksi yang terjadi sepenuhnya di dalam lingkup internal perusahaan.
Transaksi Eksternal:Ini adalah jenis transaksi yang paling umum kita temui. Transaksi eksternal melibatkan pertukaran nilai antara perusahaan dengan individu atau organisasi di luar entitas tersebut. Contoh klasiknya meliputi pembelian bahan baku dari pemasok, penjualan barang dagangan kepada pelanggan, pembayaran sewa gedung kepada pemilik properti, atau pengambilan pinjaman dari bank. Transaksi ini biasanya didukung oleh bukti fisik yang kuat seperti faktur, kuitansi, atau nota debet/kredit. Dalam pencatatannya, transaksi eksternal langsung berdampak pada perubahan aset, kewajiban, atau ekuitas yang melibatkan aliran kas atau timbulnya piutang dan utang.
Transaksi Internal: Berbeda dengan eksternal, transaksi internal tidak melibatkan pihak luar tetapi tetap memiliki nilai ekonomi yang harus diakui. Transaksi ini lebih bersifat administratif atau penyesuaian nilai aset di dalam buku besar. Contoh yang paling menonjol adalah penyusutan (depresiasi) aset tetap. Ketika sebuah mesin digunakan, nilainya berkurang seiring waktu; meskipun tidak ada uang yang keluar saat itu juga, akuntansi harus mencatat beban penyusutan tersebut sebagai transaksi internal. Contoh lainnya termasuk penggunaan perlengkapan kantor yang semula dibeli sebagai aset lalu diakui sebagai beban, atau transfer biaya antar departemen dalam perusahaan manufaktur.
2. Klasifikasi Berdasarkan Arus Kas: Tunai dan Kredit dan Non-Kas
Dalam operasional harian, cara pembayaran menentukan bagaimana transaksi tersebut dikelola dalam siklus akuntansi, terutama dalam kaitannya dengan manajemen likuiditas.
Transaksi Tunai (Cash Transactions): Ini adalah transaksi di mana pertukaran nilai dan pembayaran terjadi secara simultan atau dalam waktu yang sangat berdekatan. Saat perusahaan membeli alat tulis dan langsung membayarnya dengan uang tunai atau transfer bank, kas perusahaan berkurang seketika. Transaksi tunai dianggap paling sederhana karena tidak meninggalkan kewajiban atau tagihan di masa depan.
Transaksi Kredit (Credit Transactions):Dalam dunia bisnis modern, transaksi kredit adalah tulang punggung perdagangan. Transaksi ini terjadi ketika barang atau jasa diserahkan hari ini, namun pembayarannya disepakati pada tanggal tertentu di masa depan (misalnya termin 30 hari). Hal ini memicu munculnya akun Piutang Usaha (bagi penjual) atau Utang Usaha (bagi pembeli). Pencatatan transaksi kredit sangat penting untuk memantau arus kas masuk dan keluar yang tertunda agar perusahaan tetap memiliki modal kerja yang cukup.
Transaksi Non-Kas (Non-Cash Transactions): Transaksi ini tidak melibatkan aliran kas sama sekali, baik sekarang maupun di masa depan. Contohnya adalah penghapusan piutang yang tidak tertagih atau pertukaran aset lama dengan aset baru (tukar tambah) di mana nilai buku aset lama dijadikan pengurang harga aset baru tanpa ada perpindahan uang tunai yang signifikan.
3. Klasifikasi Berdasarkan Aktivitas Bisnis
Berdasarkan PSAK (Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan), transaksi juga dapat dikelompokkan menurut fungsinya dalam aktivitas bisnis, yang nantinya akan tercermin dengan jelas dalam Laporan Arus Kas.
Transaksi Operasional: Merupakan transaksi rutin yang berkaitan langsung dengan aktivitas utama perusahaan untuk menghasilkan pendapatan. Bagi perusahaan dagang, ini termasuk pembelian persediaan, penjualan barang, pembayaran gaji karyawan, biaya listrik, dan iklan. Transaksi operasional adalah indikator utama apakah bisnis inti perusahaan sehat atau tidak.
Transaksi Investasi: Transaksi ini berkaitan dengan perolehan dan pelepasan aset jangka panjang serta investasi lain yang tidak termasuk dalam setara kas. Membeli tanah untuk pabrik baru, menjual mesin lama yang sudah tidak efisien, atau membeli saham perusahaan lain sebagai investasi jangka panjang adalah bagian dari kategori ini. Transaksi investasi menunjukkan bagaimana perusahaan mengalokasikan sumber dayanya untuk pertumbuhan masa depan.
Transaksi Pendanaan (Financing): Ini adalah transaksi yang mengakibatkan perubahan dalam ukuran dan komposisi modal ekuitas dan pinjaman perusahaan. Contohnya adalah penerbitan saham baru untuk mendapatkan modal, pengambilan pinjaman jangka panjang dari bank (obligasi), atau pembayaran dividen kepada pemegang saham. Transaksi ini mencerminkan bagaimana perusahaan membiayai operasional dan investasinya.
4. Transaksi Berdasarkan Dampak pada Persamaan Akuntansi
Setiap transaksi dalam akuntansi harus menjaga keseimbangan persamaan dasar:
Aset = Kewajiban + Ekuitas
Berdasarkan dampaknya, transaksi dapat dibagi menjadi:
1. Transaksi yang Memengaruhi Aset Saja: Misalnya, pembelian peralatan secara tunai. Di sini, satu jenis aset (Kas) berkurang, sementara aset lainnya (Peralatan) bertambah. Total aset tetap sama, namun komposisinya berubah.
2. Transaksi yang Memengaruhi Aset dan Kewajiban: Contohnya adalah pembelian persediaan secara kredit. Aset (Persediaan) bertambah, dan di sisi lain, Kewajiban (Utang Usaha) juga bertambah dengan jumlah yang sama.
3. Transaksi yang Memengaruhi Aset dan Ekuitas: Saat pemilik menyetorkan modal pribadi ke dalam perusahaan, Aset (Kas) bertambah dan Ekuitas (Modal Pemilik) juga bertambah. Sebaliknya, pembayaran beban gaji akan mengurangi Kas (Aset) dan mengurangi Laba Ditahan (Ekuitas).
4. Transaksi yang Memengaruhi Kewajiban dan Ekuitas: Meskipun lebih jarang, ini terjadi misalnya saat konversi utang menjadi saham. Kewajiban perusahaan berkurang, tetapi Ekuitas bertambah karena pemberi utang kini menjadi pemegang saham.
5. Transaksi Penyesuaian (Adjustment Transactions)
Terakhir, ada jenis transaksi yang dilakukan di akhir periode akuntansi. Transaksi penyesuaian ini bertujuan untuk memastikan bahwa pendapatan dan beban diakui pada periode yang tepat sesuai dengan asas accrual basis.
Accrued Revenues: Pendapatan yang sudah dihasilkan tetapi belum dicatat karena belum ditagih.
Accrued Expenses: Beban yang sudah terjadi tetapi belum dibayar (misalnya bunga bank atau gaji yang jatuh tempo di akhir bulan).
Deferred Revenues (Unearned Revenue): Uang yang sudah diterima dari pelanggan namun jasanya belum diberikan.
Prepaid Expenses: Biaya yang dibayar di muka, seperti asuransi atau sewa, yang manfaatnya akan dirasakan di masa depan.
Kesimpulan
Memahami seluruh jenis transaksi ini secara rinci adalah fondasi bagi siapa saja yang ingin menguasai akuntansi. Tanpa identifikasi transaksi yang tepat, klasifikasi akun akan salah, penjurnalannya akan keliru, dan pada akhirnya, laporan keuangan yang dihasilkan akan menyesatkan para pengambil keputusan. Setiap transaksi, sekecil apa pun, merupakan bagian dari gambaran besar kesehatan finansial sebuah organisasi.
Referensi:
Standar Akuntansi Keuangan (SAK) - Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). (Pilar utama dalam pengakuan dan pengukuran berbagai jenis transaksi di konteks Indonesia)
Weygandt, J. J., Kieso, D. E., & Kimmel, P. D. (2019). Financial Accounting with International Financial Reporting Standards (IFRS). Wiley. (Menjelaskan secara mendalam mengenai pengakuan transaksi eksternal dan internal sesuai standar global).
Jumat, 10 Juli 2026
BANK SOAL UAP GANJIL 2026
gimana nih kabarnya? 🤗🤗🤗
semoga tetap sehat selalu dan bahagia yaa
Ada kabar baik nih, bagi balance people yang ingin belajar kembali soal-soal UAP Ganjil 2026,
balance people bisa download disini
Jumat, 03 Juli 2026
NILAI AKHIR PRAKTIKUM SEMESTER GENAP 2026
Hallo balance people👋
Gimana nih kabarnya? semoga baik-baik aja yaaa...
Balance people pasti udah gasabar kan pengen tau nilai akhir yang balance people dapet di lab, yukk langsung aja cek nilai semester genap kalian dan semoga hasilnya memuaskan yaa😉
Nilai Akhir Pengantar Akuntansi 2
Nilai Akhir Akuntansi Biaya 1
Nilai Akhir Akuntansi Biaya 1 (Ngulang)
Nilai Akhir Akuntansi Biaya 2
Nilai Akhir Akuntansi Koperasi
Nilai Akhir Akuntansi Koperasi (Ngulang)
Nilai Akhir Akuntansi Keuangan 1
Nilai Akhir Akuntansi Keuangan 2
Nilai Akhir Komputerisasi Akuntansi
Besar atau kecil nilai yang balance people dapat itu merupakan hasil dan usaha balance people sendiri yaa, jangan lupa apresiasikan usaha yang telah balance people berikan. Semoga balance people dapat terus mempertahankan dan meningkatkan nilai praktikumnya yaaa💫
Semangattttttt terus balance people dan selamat menjalani ujian akhir semesternya ya👋😊
Minggu, 14 Juni 2026
BALANCE FACT: PERSEDIAAN BARANG DAGANG
PERSEDIAAN BARANG DAGANG
1. Pengertian Persediaan
Menurut PSAK 202, Persediaan adalah aset yang dimiliki untuk dijual dalam kegiatan usaha normal, dalam proses produksi untuk penjualan, atau dalam bentuk bahan dan perlengkapan yang akan digunakan dalam proses produksi atau pemberian jasa. Dalam perusahaan dagang, persediaan umumnya berupa barang yang dibeli untuk dijual kembali tanpa melalui proses produksi. Dengan demikian, persediaan memiliki peran penting sebagai sumber utama pendapatan perusahaan karena akan menghasilkan arus masuk kas melalui penjualan.
2. Ruang Lingkup Persediaan
PSAK 202 mengatur perlakuan akuntansi persediaan secara menyeluruh, mulai dari pengakuan, pengukuran, hingga pengungkapan dalam laporan keuangan. Standar ini mencakup penentuan biaya perolehan, metode penilaian persediaan, pengakuan persediaan sebagai beban (Harga Pokok Penjualan), serta perlakuan terhadap penurunan nilai persediaan. Namun, tidak semua jenis persediaan diatur dalam PSAK ini, karena beberapa aset seperti aset biologis atau instrumen keuangan diatur dalam standar lain.
3. Pengakuan Persediaan
Persediaan diakui sebagai aset jika:
Entitas memiliki kendali atas barang
Mengandung manfaat ekonomi di masa depan
Dapat diukur secara andal
Dalam praktiknya, pengakuan ini juga dipengaruhi oleh syarat penyerahan barang, seperti FOB shipping point atau FOB destination, yang menentukan kapan hak kepemilikan berpindah dari penjual ke pembeli.
4. Pengukuran Persediaan
PSAK 202 menetapkan bahwa persediaan harus diukur sebesar biaya perolehan atau nilai realisasi neto (Net Realizable Value/NRV), mana yang lebih rendah. Biaya perolehan mencakup seluruh biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh persediaan hingga berada dalam kondisi dan lokasi siap dijual, seperti harga beli, bea impor, pajak yang tidak dapat dikreditkan, serta biaya angkut dan penanganan, setelah dikurangi diskon atau potongan pembelian.
Sementara itu, nilai realisasi neto merupakan estimasi harga jual dalam kegiatan usaha normal dikurangi biaya penyelesaian dan biaya penjualan. Prinsip ini bertujuan untuk mencegah penyajian nilai persediaan yang terlalu tinggi dalam laporan keuangan.
5. Pengakuan sebagai Beban (HPP)
PSAK 202 menyatakan bahwa ketika persediaan dijual, maka nilai tercatat persediaan tersebut harus diakui sebagai beban dalam bentuk Harga Pokok Penjualan (HPP). Hal ini menunjukkan bahwa persediaan memiliki hubungan langsung dengan laba rugi perusahaan, karena semakin besar HPP maka laba yang dihasilkan akan semakin kecil, dan sebaliknya.
6. Pengungkapan dalam Laporan Keuangan
Menurut PSAK 202 dari Ikatan Akuntan Indonesia, entitas wajib mengungkapkan:
Kebijakan akuntansi yang digunakan untuk persediaan
Metode penilaian persediaan (FIFO atau rata-rata)
Jumlah tercatat persediaan
Jumlah penurunan nilai (write-down)
Jumlah pembalikan penurunan nilai (reversal)
Kondisi atau peristiwa yang menyebabkan penurunan nilai
Persediaan yang dijadikan jaminan (jika ada)
7. Metode Penentuan Biaya Persediaan
Metode yang diperbolehkan dalam PSAK 202:
FIFO (First In First Out) → barang yang pertama dibeli dianggap dijual terlebih dahulu
Rata-rata tertimbang (Weighted Average) → biaya dihitung dari rata-rata seluruh unit
Metode yang tidak diperbolehkan dalam PSAK 202:
LIFO (Last In First Out) → Menganggap barang terakhir dibeli dijual terlebih dahulu
Alasan:
o Tidak mencerminkan aliran fisik barang
o Dapat membuat laporan keuangan kurang relevan dan tidak representative
8. Metode Pencatatan Persediaan
Terdapat 2 metode pencatatan:
1) Sistem Perpetual
Persediaan dicatat setiap transaksi
Nilai persediaan selalu update
HPP bisa langsung diketahui
Cocok untuk perusahaan besar / sistem modern
2) Sistem Periodik
Persediaan tidak dicatat setiap transaksi
Dihitung di akhir periode (stock opname)
HPP dihitung di akhir periode
Lebih sederhana, cocok usaha kecil
Sumber :
PSAK 202: Persediaan – Ikatan Akuntan Indonesia (IAI)
Kamis, 14 Mei 2026
BALANCE FACT : LAPORAN ARUS KAS
1. Ruang Lingkup Standar
PSAK 207 menggantikan PSAK 2 (Laporan Arus Kas). Peralihan ini mengikuti PSAK baru yang merujuk IAS 7 Statement of Cash Flows dengan nomor standar diperbarui untuk PSAK setelah harmonisasi dengan IFRS.
PSAK 207 (Laporan Arus Kas) mengatur:
Tujuan pelaporan arus kas
Definisi kas dan setara kas
Aktivitas arus kas
Penyajian aktivitas kas
Pengungkapan arus kas dari aktivitas investasi dan pendanaan
Pengungkapan arus kas ketidak-likuidan tertentu dan liabilitas pendanaan yang timbul
2. Definisi Kas, Setara Kas, dan Laporan Arus Kas
Kas merupakan uang tunai dan saldo giro yang tersedia (dapat digunakan kapan saja dan tidak perlu dikonversi terlebih dahulu) dapat berupa cash on hand atau cash in bank.
Setara kas merupakan investasi yang sangat likuid yang mudah dicairkan menjadi kas dengan risiko perubahan nilai yang tidak signifikan dan jatuh tempo tidak lebih dari 3 bulan sejak tanggal perolehan.
Laporan arus kas merupakan merupakan laporan yang menyajikan informasi mengenai arus masuk dan arus keluar kas dan setara kas selama suatu periode, yang diklasifikasikan berdasarkan aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan.
Secara sederhana, laporan arus kas menjelaskan dari mana kas diperoleh dan untuk apa kas digunakan dalam satu periode akuntansi.
3. Tujuan Laporan Arus Kas
Menurut PSAK 207, informasi tentang arus kas suatu Perusahaan berguna bagi para pemakai laporan keuangan sebagai dasar untuk menilai kemampuan Perusahaan dalam menghasilkan kas dan setara kas, serta menilai kebutuhan perusahaan dalam menggunaan arus kas tersebut. Dalam proses pengambilan Keputusan ekonomi, para pemakai perlu melakukan evaluasi terhadap kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas dan setara kas serta kepastian perolehannya. Selain itu, tujuan laporan arus kas juga adalah sebagai berikut:
Menilai kemampuan perusahaan menghasilkan kas dan setara kas
Menilai kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendek
Menilai kebutuhan perusahaan terhadap penggunaan kas
Membantu pengguna laporan keuangan dalam menilai likuiditas dan solvabilitas
Menjadi dasar evaluasi kinerja keuangan Perusahaan
4. Klasifikasi Arus Kas
PSAK 207 menetapkan tiga kelompok utama arus kas berdasarkan aktivitas yaitu:
Arus Kas dari Aktivitas Operasi:
Arus kas yang berasal dari aktivitas utama entitas menghasilkan pendapatan.
Arus Kas dari Aktivitas Investasi:
Arus kas yang berkaitan dengan perolehan dan pelepasan aset jangka panjang dan investasi lain selain kas & setara kas.
Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan
Arus kas yang berasal dari perubahan ukuran dan komposisi modal penyandang dana dan pinjaman perusahaan.
5. Penyajian Arus Kas
Metode Langsung (Direct Method)
Menurut PSAK 207, arus kas dari aktivitas operasi dapat disajikan dengan metode langsung, yaitu mencatat arus kas masuk dan keluar secara bruto dari aktivitas operasi yang utama (misalnya kas diterima dari pelanggan, kas dibayarkan ke pemasok dan karyawan).
Metode Tidak Langsung (Indirect Method)
PSAK 207 juga memperbolehkan metode tidak langsung untuk arus kas dari aktivitas operasi. Metode ini memulai dari laba atau rugi akuntansi, lalu disesuaikan untuk transaksi nonkas seperti penyusutan, akrual, dan transaksi yang terkait dengan investasi atau pendanaan.
Sumber :
PSAK No 207: Laporan Arus Kas – Ikatan Akuntan Indonesia (IAI)
Sabtu, 25 April 2026
BANK SOAL UTP GENAP 2026
gimana nih kabarnya? 🤗🤗🤗
semoga tetap sehat selalu dan bahagia yaa
Ada kabar baik nih, bagi balance people yang ingin belajar kembali soal-soal UAP Ganjil 2026,
balance people bisa download Disini
Selasa, 14 April 2026
BALANCE FACT: PENCATATAN DAN PERHITUNGAN PIUTANG
PENCATATAN DAN PERHITUNGAN PIUTANG
Pengertian Piutang Usaha
Piutang adalah suatu hak pembayaran yang dimiliki suatu entitas terhadap suatu pihak/entitas karena telah mendapatkan manfaat atas suatu produk atau jasa tetapi belum diselesaikan pembayarannya. Piutang merupakan jenis aktiva lancar karena memiliki jatuh tempo yang pendek (kurang dari satu periode pelaporan), dapat memiliki bunga dan memiliki konsekuensi atas dasar denda apabila telat dalam pembayarannya.
Klasifikasi Piutang
Dalam sebuah entitas, piutang diklasifikasikan menjadi dua kelompok, yaitu :
1. Piutang Usaha
Piutang yang timbul dari penjualan barang atau jasa yang dihasilkan oleh entitas. Dalam kegiatan normal entitas, piutang usaha biasanya akan dilunasi dalam tempo kurang dari satu tahun sehingga piutang dikelompokkan ke dalam aset lancar.
2. Piutang Non-Usaha
Piutang yang timbul bukan sebagai bagian akibat dari penjualan barang atau jasa yang dihasilkan entitas, misalnya DP pembelian barang, klaim atas kerusakam atau kehilangan, klaim restitusi pajak, pengakuan dividen dan lain-lain.
Pencatatan, Pengukuran dan Penyajian Piutang
Piutang dicatat dan diakui sebesar nilai bruto (nilai jatuh tempo) dikurangi dengan taksiran jumlah yang tidak akan diterima. Piutang dicatat sebesar jumlah yang diestimasi akan dapat ditagih. Karena itu dalam proses pengelolaan piutang, perusahaan harus membuat cadangan piutang tak tertagih yang merupakan taksiran jumlah piutang yang diestimasi tidak dapat ditagoh dalam periode tersebut.
Dasar Pencadangan Piutang Tak Tertagih
Dalam menghitung estimasi piutang tak tertagoh terdapat dua dasar yang dapat dijadikan acuan, yaitu :
1. Presentasi dari total penjualan
Cadangan Kerugian Piutang tak tertagoh didasarkan pada presentase tertentu dari saldo akun penjualan pada saat cadangan kerugian tersebut ditetapkan atau pada taksiran jumlah penjualan kredit pada periode berjalan.
2. Saldo Piutang
a. Presentase Saldo Piutang, cadangan kerugian ditentukan berdasarkan saldo akun piutang pada periode perhitungan.
b. Analisis Umur Piutang, Cadangan kerugian piutang didasarkan pada besaran risiko atau kemungkinan tidak tertagih di periode berjalan.
Penghapusan Piutang
Cadangan kerugian piutang ditetapkan pada awal periode akuntansi dan merupakan estimasi besarnya piutang tak tertagih pada suatu periode akuntansi, namun pada saat berjalannya waktu, seringkali terdapat sejumlah piutang yang tidak benar-benar tidak dapat ditagih sehingga harus dihapuskan karena berbagai alasan. Penghapusan ini akan mempengaruhi posisi dalam laporan laba rugi dan laporan posisi keuangan. Dalam menghapus piutang tak tertagih, ada dua metode yang dapat digunakan yaitu :
1. Metode Cadangan Kerugian
Metode penghapusan piutang yang dilakukan dengan cara setiap hari periode ditentukkan taksiran jumlah kerugian piutang. Taksiran piutang tak tertagih dan taksiran kerugian piutang tak tertagih ini dicatat ke rekening kerugian piutang sisi debet dan cadangan kerugian piutang di sisi kredit.
2. Metode Penghapusan Langsung (Direct Write Off)
Metode penghapusan piutang dengan cara langsung menghapusan piutang yang benar-benar tidak dapat ditagih tanpa pencadangan terlebih dahulu.
Pengendalian Internal Piutang
Perusahan dalam menjalankan aktivitasnya untuk mencapai tujuan harus melakukan pengendalian. Pengendalian yang ditetapkan harus memberi manfaat, dalam hal ini mampu meningkatkan efektivitas serta efisensi operasi. Pengendalian juga bertujuan agar segala sesuatunya berjalan sesuai dengan perencanaan. Pengendalian dimaksud adalah pengendalian intern terhadap piutang (Basuki, 2022). Giri (2017) menyatakan pengertian piutang sebagai suatu tuntutan perusahaan kepada pelanggan maupun pihak lain untuk mendapatkan barang, jasa dan uang di masa depan yang disebabkan oleh penyerahan barang atau jasa pada masa sekarang.
Amelia Rizky Alamanda, S. M. (2022). Bandung: CV. Media Sains Indonesia.
Sabtu, 14 Maret 2026
BALANCE FACT: ASET TAK BERWUJUD
Rabu, 25 Februari 2026
Profil Asisten Laboratorium Akuntansi dan Keuangan Ikopin 2026-2027
Senin, 19 Januari 2026
NILAI AKHIR PRAKTIKUM SEMESTER GANJIL 2025
Hallo balance people👋
Gimana nih kabarnya? semoga baik-baik aja yaaa...
Balance people pasti udah gasabar kan pengen tau nilai akhir yang balance people dapet di lab, yukk langsung aja cek nilai semester ganjil kalian dan semoga hasilnya memuaskan yaa😉
Nilai Akhir Akuntansi Biaya 1
Nilai Akhir Akuntansi Biaya 1 (Ngulang)
Nilai Akhir Akuntansi Keuangan 1
Nilai Akhir Akuntansi Keuangan 2
Nilai Akhir Akuntansi Koperasi
Nilai Akhir Akuntansi Koperasi (Ngulang)
Nilai Akhir Pengantar Akuntansi 1
Besar atau kecil nilai yang balance people dapat itu merupakan hasil dan usaha balance people sendiri yaa, jangan lupa apresiasikan usaha yang telah balance people berikan. Semoga balance people dapat terus mempertahankan dan meningkatkan nilai praktikumnya yaaa💫
Semangattttttt terus balance people dan selamat menjalani ujian akhir semesternya ya👋😊
BANK SOAL UAP GANJIL 2025
Hallo Balance People gimana nih kabarnya? semoga tetap sehat selalu dan bahagia yaa
Ada kabar baik nih, bagi balance people yang ingin belajar kembali soal-soal UAP Ganjil 2026,
balance people bisa download Disini
Rabu, 14 Januari 2026
BALANCE FACT : AMORTISASI AKTIVA TIDAK BERWUJUD
Amortisasi Aktiva Tidak Berwujud
1. Pengertian Aktiva Tidak Berwujud
Aktiva tidak berwujud merupakan aset yang dimiliki perusahaan tanpa bentuk fisik, namun mampu memberikan manfaat ekonomi di masa yang akan datang. Aktiva ini muncul karena adanya hak atau keistimewaan tertentu yang melekat pada perusahaan, baik yang diperoleh melalui pembelian maupun hasil pengembangan sendiri. Walaupun tidak berwujud secara fisik, aktiva ini memiliki peran penting dalam menunjang kegiatan operasional perusahaan.
2. Karakteristik Aktiva Tidak Berwujud
Aktiva tidak berwujud memiliki beberapa karakteristik utama, yaitu tidak memiliki bentuk fisik, digunakan dalam kegiatan operasional perusahaan, serta memberikan manfaat ekonomi lebih dari satu periode akuntansi. Selain itu, aktiva tidak berwujud umumnya berkaitan dengan hak hukum atau hak kontraktual yang memberikan keunggulan tertentu bagi perusahaan dibandingkan pihak lain.
3. Pengertian Amortisasi Aktiva Tidak Berwujud
Amortisasi aktiva tidak berwujud merupakan proses pengalokasian harga perolehan aktiva tidak berwujud secara sistematis selama masa manfaatnya. Amortisasi dilakukan agar biaya perolehan aktiva tersebut dapat dibebankan secara proporsional pada periode-periode yang menerima manfaat dari penggunaan aktiva tersebut. Proses ini bertujuan untuk mencerminkan penggunaan manfaat ekonomi aktiva secara wajar dalam laporan keuangan.
4. Pencatatan Amortisasi Aktiva Tidak Berwujud
Amortisasi hanya diterapkan pada aktiva tidak berwujud yang memiliki masa kegunaan terbatas. Metode dan cara amortisasi pada dasarnya sama dengan penyusutan aktiva tetap berwujud. Dalam pencatatannya, beban amortisasi dicatat dengan mendebet akun beban amortisasi dan mengkredit akun aktiva tidak berwujud yang bersangkutan.
Contoh aktiva tidak berwujud yang dapat diamortisasi adalah hak paten dan hak cipta. Hak paten diberikan untuk jangka waktu tertentu sehingga harus diamortisasi selama masa manfaatnya. Hak cipta juga diamortisasi selama hak tersebut masih memberikan manfaat ekonomi bagi perusahaan.
5. Aktiva Tidak Berwujud yang Tidak Diamortisasi
Aktiva tidak berwujud yang memiliki masa manfaat tidak terbatas tidak dilakukan amortisasi. Salah satu contoh aktiva tersebut adalah goodwill. Goodwill tidak dialokasikan sebagai beban secara periodik, tetapi dilakukan pengujian penurunan nilai apabila terdapat indikasi bahwa nilai tercatatnya tidak lagi mencerminkan manfaat ekonomi yang diharapkan.
Simpulan
Amortisasi aktiva tidak berwujud merupakan perlakuan akuntansi yang penting dalam penyusunan laporan keuangan. Melalui amortisasi, biaya perolehan aktiva tidak berwujud dapat dialokasikan sesuai dengan masa manfaatnya sehingga laporan keuangan mampu menyajikan informasi yang lebih wajar dan relevan mengenai posisi keuangan dan kinerja perusahaan.
Daftar Pustaka
Satria, Dy Ilham. (2016). Modul Akuntansi Keuangan 1. Univer
sitas Malikussaleh.
Minggu, 14 Desember 2025
BALANCE FACT : PARTISIPASI JASA DALAM KOPERASI
PARTISIPASI JASA DALAM KOPERASI
1. Pengertian Partisipasi Jasa dalam Koperasi
Partisipasi jasa dalam koperasi berarti keterlibatan aktif para anggota dalam kegiatan usaha koperasi, tidak hanya melalui penyertaan modal, tetapi juga dengan memberikan waktu, tenaga, dan pemanfaatan jasa yang disediakan koperasi. Menurut Hendar dan Kusnadi (2005) dalam buku Ekonomi Koperasi untuk Perguruan Tinggi, keikutsertaan anggota dalam berbagai aktivitas koperasi merupakan wujud penerapan nilai kebersamaan dan gotong royong. Dengan kata lain, partisipasi jasa menunjukkan peran anggota sebagai pengguna layanan sekaligus sebagai motor penggerak keberhasilan koperasi.
2. Tujuan Partisipasi Jasa dalam Koperasi
Partisipasi jasa memiliki tujuan untuk memperkuat kegiatan ekonomi koperasi dengan mendorong keterlibatan langsung anggota dalam pengelolaan dan pemanfaatan layanan koperasi. Melalui partisipasi jasa, koperasi dapat menjalankan usahanya secara lebih efisien dan mempererat hubungan antaranggota. Selain itu, partisipasi ini juga menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kesadaran bersama bahwa kemajuan koperasi sangat bergantung pada dukungan anggotanya.
3. Manfaat Partisipasi Jasa dalam Koperasi
Partisipasi jasa memberikan berbagai manfaat, antara lain meningkatkan loyalitas dan rasa memiliki anggota terhadap koperasi, memperluas skala usaha, serta memperkuat posisi koperasi dalam perekonomian masyarakat. Dengan adanya keterlibatan aktif anggota, koperasi akan lebih mudah berkembang dan memberikan manfaat ekonomi secara adil bagi semua pihak yang terlibat. Semakin tinggi tingkat partisipasi jasa, semakin besar pula potensi koperasi untuk mencapai tujuan bersama.
4. Simpulan
Partisipasi jasa dalam koperasi merupakan bentuk keterlibatan nyata anggota dalam menjalankan dan memajukan usaha koperasi, tidak hanya melalui penyertaan modal tetapi juga melalui penggunaan, pengelolaan, serta dukungan terhadap layanan koperasi. Partisipasi ini mencerminkan semangat kebersamaan dan tanggung jawab sosial antaranggota. Dengan meningkatnya partisipasi jasa, koperasi akan lebih mudah berkembang, meningkatkan kesejahteraan anggota, dan mewujudkan tujuan utama koperasi yaitu kemakmuran bersama.
Sumber:
Hendar & Kusnadi. (2005). Ekonomi Koperasi untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: Lembaga Penerbit FE UI.
Selasa, 02 Desember 2025
BANK SOAL UTP GANJIL 2025
Hallo Balance People gimana nih kabarnya? semoga tetap sehat selalu dan bahagia yaa
Ada kabar baik nih, bagi balance people yang ingin belajar kembali soal-soal UTP Ganjil 2025,
balance people bisa download Disini
Jumat, 14 November 2025
BALANCE FACT: AKUNTANSI PRODUK CACAT
Penanaman Modal Dalam Saham Dan Dana
Sumber: Intermediate Accounting – Prof. Dr. Zaki Baridwan, M. Sc., Akt.
• Investasi Saham Perusahaan
Perusahaan bisa menggunakan uang berlebihnya untuk membeli saham perusahaan lain. Cara pencatatan pembelian saham ini (sebagai investasi jangka pendek atau jangka panjang) tergantung pada tujuan pembeliannya.
1. Investasi Jangka Pendek (Aset Lancar)
Tujuan: Untuk menggunakan uang yang sedang tidak terpakai (menganggur). Saham ini dibeli dengan niat untuk cepat dijual saat perusahaan butuh uang tunai mendadak.
Pencatatan: Dicatat sebagai investasi jangka pendek dan termasuk dalam aset lancar (aset yang mudah diubah jadi uang tunai).
2. Investasi Jangka Panjang
Tujuan: Jika saham dibeli bukan untuk tujuan cepat dijual demi kebutuhan uang tunai, maka dicatat sebagai investasi jangka panjang.
Tujuan utama investasi jangka panjang dalam saham biasanya adalah:
• Mengontrol perusahaan lain: Untuk memiliki kendali atau pengaruh signifikan terhadap perusahaan yang sahamnya dibeli.
• Mendapat penghasilan rutin: Untuk menerima dividen atau pendapatan tetap secara berkala.
• Membentuk dana khusus: Untuk mengumpulkan uang demi tujuan tertentu di masa depan (misalnya, dana pelunasan utang atau dana ekspansi).
• Memastikan pasokan bahan baku: Untuk menjaga kelancaran atau ketersediaan bahan baku penting dari perusahaan pemasok.
• Menjaga relasi antarperusahaan: Untuk memperkuat hubungan bisnis atau kerja sama dengan perusahaan lain.
• Memilih Jenis Saham untuk Investasi
Keputusan untuk membeli saham biasa atau saham prioritas tergantung pada tujuan investasi, yang diantaranya:
- Jika tujuannya adalah mendapatkan pendapatan yang stabil (dividen tetap) setiap periode, lebih baik memilih saham prioritas.
- Jika tujuannya adalah mengawasi atau mengontrol perusahaan lain, lebih baik memilih saham biasa karena saham jenis ini memiliki hak suara dalam rapat pemegang saham.
Perusahaan yang memiliki sebagian besar saham perusahaan lain disebut Perusahaan Induk (Parent Company), dan perusahaan yang dikendalikan itu disebut Anak Perusahaan (Subsidiary Company).
• Metode Pencatatan Investasi Saham (Tergantung Jumlah Kepemilikan)
Cara perusahaan mencatat investasi sahamnya sangat ditentukan oleh seberapa besar persentase saham yang mereka miliki di perusahaan lain. Persentase ini mengacu pada jumlah lembar saham yang dimiliki dibandingkan dengan total saham yang beredar.
Perusahaan yang memiliki saham lebih dari 50% disebut Induk Perusahaan dan perusahaan yang dimiliki disebut Anak Perusahaan. Karena adanya pengendalian penuh, laporan keuangan keduanya dikonsolidasikan (dijadikan satu laporan).
• Pembelian Saham dan Penentuan Harga Pokok
Saham dapat dibeli dengan uang tunai atau ditukar dengan aset lain. Cara pembelian ini menentukan bagaimana kita mencatat harga pokok (biaya perolehan) saham tersebut.
1. Pembelian dengan Uang Tunai
Harga Pokoknya adalah total semua biaya yang dikeluarkan, meliputi:
- Harga beli saham itu sendiri (harga kurs).
- Semua biaya tambahan (komisi broker, meterai, dan lain-lain).
Jumlah total ini dicatat dengan mendebit akun Investasi dalam Saham.
2. Pembelian dengan Menukar Aset
Harga Pokok Saham dicatat sebesar harga pasar aset yang berikan sebagai gantinya.
Jika harga pasar aset yang ditukar tidak diketahui, maka harga pokok saham dicatat sebesar harga pasar saham yang diperoleh.
Jika keduanya (harga pasar aset dan saham) tidak diketahui, nilainya harus ditaksir (diperkirakan).
Catatan Khusus untuk Saham Prioritas
Jika membeli saham prioritas bukan pada tanggal pembayaran dividen, biasanya dividen yang sudah terutang (dividen yang seharusnya sudah diterima dari tanggal terakhir pembayaran dividen sampai tanggal pembelian) akan tetap diperhitungkan dalam transaksi jual beli.
3. Pembelian Saham Secara Gabungan (Lumpsum)
Terkadang membeli dua jenis saham atau lebih sekaligus dalam satu transaksi dengan total harga tunggal. Masalahnya adalah: bagaimana cara membagi total harga beli itu untuk masing-masing jenis saham? Ini disebut alokasi harga beli.
• Dividen
Dividen adalah pembagian keuntungan (laba) perusahaan kepada para pemegang saham. Jumlah dividen yang diterima tergantung pada berapa lembar saham yang dimiliki.
Meskipun dividen biasanya dibagikan dalam bentuk uang tunai, jika kas perusahaan tidak mencukupi, dividen dapat dibagikan dalam bentuk lain, yaitu:
- Uang Tunai (Kas).
- Aset Lain (selain uang tunai dan saham perusahaan sendiri).
- Saham Baru (Dividen Saham).
Dividen Saham (Stock Dividend)
Dividen Saham adalah pembagian keuntungan oleh perusahaan kepada pemegang saham dalam bentuk saham tambahan, bukan uang tunai.
Bagi investor, ini artinya:
- Jumlah lembar saham bertambah (Dapat saham gratis).
- Total biaya perolehan (harga pokok) tetap sama.
- Nilai total investasi tidak berubah, hanya saja sekarang dipecah menjadi lebih banyak lembar saham.
Jenis Dividen Saham dan Cara Pencatatannya
Pencatatan dividen saham tergantung pada jenis saham yang diterima:
1. Menerima Saham yang Sejenis (Paling Umum)
- Contoh: Pemiliki saham biasa, dan dividen yang diterima juga saham biasa.
- Dampak: Jumlah lembar saham bertambah, tetapi total biaya perolehan (nilai buku) tetap.
- Pencatatan: Tidak perlu membuat jurnal akuntansi. Cukup membuat memo (catatan internal) untuk menunjukkan bahwa jumlah lembar saham bertambah.
- Saat Dijual: Ketika menjual saham tersebut, harga pokok per lembar saham yang digunakan adalah harga pokok per lembar yang baru (total biaya perolehan dibagi jumlah lembar saham yang baru).
2. Menerima Saham yang Berbeda Jenis
- Contoh:Pemilik saham biasa, dan dividen yang diterima adalah saham prioritas.
- Pencatatan: Total biaya perolehan awal harus dibagi (dialokasikan) kepada kedua jenis saham (saham lama dan saham dividen baru) berdasarkan nilai pasar relatif masing-masing saham pada saat itu.
3. Menerima Saham Sebagai Pengganti Dividen Tunai
Jika dividen saham ini diberikan sebagai pengganti dari dividen tunai yang seharusnya terima:
- Saham yang diterima dicatat sebagai penghasilan dividen.
- Harga pokok saham awal tidak berubah.
- Rekening penghasilan dividen dicatat sebesar harga pasar saham yang diterima.
Jika Saham Dibeli Bertahap
Jika membeli saham awal dalam beberapa kali pembelian dengan harga yang berbeda-beda, maka dividen saham yang diterima harus dikaitkan dengan masing-masing kelompok pembelian tersebut. Ini dilakukan agar dapat menghitung harga pokok yang akurat untuk setiap kelompok saham yang kini jumlah lembarnya sudah bertambah




















